DON'T LIKE ME

Sejarah Suku Semende dalam Penellitian


 ----------------------------------------------------------------------------------
       Berdasarkan Hasil Pelacakan Sejarah yang telah dilakukan, maka ada beberapa bukti sejarah yang ditemukan :
  1. Pada tahun 1650 masehi atau 1072 hijriyah telah bertemu sekitar 50 ’ulama di Perdipe, Sumatera Selatan.
  2. Mereka berasal dari wilayah Rumpun Melayu yang meliputi Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan, Semenanjung Malaka, Fak-Fak- Papua, Ternate, dan Kepulauan Mindanau.
  3. Hasil Mudzakarah ini memunculkan perluasan dakwah Islam yang berakibat terkikisnya faham anismisme dan budaya jahiliyah di masyarakat.
  4. Munculnya kader-kader mujahid yang mengadakan perlawan terhadap penjajah Eropa.
  5. Terjadinya perluasan wilayah Islam yang ditandai dengan munculnya Kesultanan yang baru yang masing-masing saling bekerjasama secara baik. 
A. Siapakah Tokoh Sentral pada Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu abad   17 M
 
Berdasarkan arsip kuno berupa kaghas (tulisan dengan huruf ulu diatas kulit kayu) yang ditemukan di Dusun Penghapau, Semende Darat, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan yang diterjemahkan pada tahun 1974 oleh Drs. Muhammad Nur (ahli purbakala Pusat Jakarta), ada beberapa catatan sejarah. Bahwa pada tahun 1072 Hijriyah atau 1650 Masehi telah ada seorang tokoh ’Ulama yang bernama Syech Nurqodim al-Baharudin yang bergelar Puyang Awak yang mendakwahkan Islam di daerah dataran Gunung Dempo Sumatera Selatan.

Menurut buku ”Jagad Basemah Libagh Semende Panjang”, Terbitan Pustaka Dzumirah, Karya TG.KH. Drs. Thoulun Abdurrauf, dinyatakan bahwa pada abad ke 14 – 17 Masehi, kaum Imperialis dan Kapitalis Eropa (Portugis, Inggris, dan Belanda) telah merompak di lautan dan merampok di daratan yang diistilahkan dalam bahasa melayu, yaitu mengayau. Mereka dengan taktik devide et impera berusaha memecah-belah penduduk di Rumpun Melayu yang berpusat di Pulau Jawa dan Semenanjung Malaka. Maka para waliullah di daerah tersebut dengan dipelopori oleh Syech Nurqodim al-Baharudin pada tahun 1650 M / 1072 H menggelar musyawarah yang berpusat di Perdipe (Sekarang masuk wilayah Kota Pagar Alam, Dataran Gunung Dempo, Sumatera Selatan). Tujuan musyawarah ini antara lain guna menyusun kekuatan bagi persiapan perang bulan sabit merah untuk menumpas ekspansi perang salib di Asia Tenggara.

Masih menurut beliau, bahwa kosa kata ”belanda” konon adalah sebutan bahasa melayu untuk orang netherlands. Kata belanda berasal dari dua suku kata ”belah” (memecah) dan ”nde” (keluarga), maknanya ”tukang memecah-belah keluarga”. Berbeda maknanya dengan kata ”semende” dari dua suku kata ”same” (satu) dan ”nde” (keluarga), maka maknanya ”satu keluarga” yaitu persaudaraan mukmin.

B. Siapakah Syech Nurqodim al-Baharudin

Syech Nurqodim al-Baharudin adalah cucu dari Sunan Gunung Jati dari Putri Sulungnya Panembahan Ratu Cirebon yang menikah dengan Ratu Agung Empu Eyang Dade Abang. Syech Nurqodim al-Baharudin kecil, beserta ketiga adiknya dididik dengan aqidah Islam dan akhlaqul karimah oleh orang tuanya di Istana Plang Kedidai yang terletak di tepi Tanjung Lematang.

Sewaktu remaja beliau digembleng oleh para ’ulama dari Aceh Darussalam yang sengaja didatangkan ayahnya. Ketika tiba masanya menikah beliau menyunting gadis dari Ma Siban (Muara Siban), sebuah dusun di kaki Gunung Dempo yang memiliki situs Lempeng Batu berukir Hulu Balang menunggang Kuda dengan membawa bendera Merah Putih (lihat buku ”5000 tahun umur merah putih” karya Mister Muhammad Yamin). Setelah bermufakat, beliau sekeluarga beserta adik-adiknya, keluarga dan sahabatnya membuka tanah di Talang Tumutan Tujuh, sebagai wilayah yang direncanakan beliau untuk menjadi Pusat Daerah Semende.

Menurut salah seorang keturunan beliau yang masih ada sekarang-TSH Kornawi Yacob Oemar-, dalam sebuah makalahnya dinyatakan bahwa, Syech Baharudin adalah pencipta adat Semende. Sebuah adat yang mentransformasi perilaku rumahtangga Nabi Muhammad SAW. Beliau juga pencetus falsafah ”jagad besemah libagh semende panjang”, yaitu ”Negara Demokrasi” pertama di Nusantara (1479-1850). Akan tetapi ”negara” itu runtuh akibat peperangan selama 17 tahun (1883-1850) malawan kolonial Belanda.

Sebelum ke Tanah Besemah, Syech Baharudin bermukim di Pulau Jawa dan hidup satu zaman dengan Wali Songo. Beliau sangat berpengaruh di di bahagian tengah dan selatan Pulau Jawa. Sedangkan Wali Songo pada masa sebelum berdirinya Kerajaan Bintoro Demak memiliki pengaruh di Pantai Utara Pulau Jawa. Tertulis dalam Kitab Tarikhul Auliya, bahwa untuk mendirikan kerajaan Islam pertama di Pulau Jawa-yaitu Demak, maka ada 16 orang wali bermusyawarah di Masjid Demak termasuk pula Syech Baharudin dan beberapa wali dari Pulau Madura.

Dalam musyawarah itu Sunan Giri menginginkan agar dibentuk suatu negara Kerajaan dengan mengangkat Raden Fatah sebagai raja /sulthan dengan alasan negara baru tersebut tidak akan diserbu balatentara Majapahit, mengingat Raden Fatah adalah anak dari raja Majapahit. Konon dari 16 wali tersebut, 9 orang yang mendukung pendapat ini dan tujuh orang yang berbeda pemahaman dalam strategi dakwahnya termasuk Syech Baharudin.

Syech Baharudin (Puyang Awak) menginginkan suatu daulah seperti Madinah al Munawarah pada masa Rosulullah SAW. Namun demi menjaga persatuan ummat Islam yang kala itu jumlah belum banyak, beliau memutuskan untuk hijrah (melayur) ke Pulau Sumatera. Dari tanah Banten beliau menyeberang ke Tanjung Tua-ujung paling selatan Pulau Sumatera-. Kemudian menyusuri pesisir timur, yaitu daerah Ketapang-Menggala-Komering-Palembang-Enim dan Tiba di Tanah Pasemah lalu menetap disana tepatnya di Perdipe.

Disepanjang perjalanan, sebagai seorang mubaligh beliau selalu mendatangi tempat-tempat dimana masyarakat masih belum mengenal agamaTauhid dan akhlaqul qarimah, untuk mengajarkan nilai-nilai ajaran Islam dengan metode yang sangat sederhana yaitu memepergunakan kultur budaya masyarakat setempat sehingga dapat dimengerti dengan mudah oleh seluruh lapisan masyarakat.

Dalam kehidupan bermasyarakat beberapa suku di perdalaman Sumatera Bagian Selatan, Puyang Awak adalah penyebar agama Islam yang sangat kharismatik. Nama beliau menjadi legenda dari generasi ke generasi terutama sikap beliau yang menunjukkan rasa peduli dan kasih sayang yang sangat tinggi terhadap semua makhluk ciptaan Allah.

Di tanah Pasemah pada waktu itu, Puyang Awak melihat pola hidup masyarakat sangat jauh dari kehidupan yang islami.Adanya praktek-praktek perbudakan dikalangan masyarakat.Perampokan dan penjarahan bagkan penculikan terhadap wanita dan anak-anak dari suku-suku lain disekitar Basemah [dalam bahasa basemah disebut ’nampu’] untuk dijadikan budak [dalam bahasa pasemah disebut ’pacal’], dianggap suatu kebanggaan. Bahkan ada satu keluarga besar yang memiliki ratusan ekor kerbau dan sapi serta puluhan orang pical, pada waktu ia mengadakan suatu pesta pernikahan anaknya, dengan pesta besar-besaran dengan menyembelih puluhan ekor sapi dan kerbau. Untuk menambah ’kebanggaan’ dari keluarga tersebut, maka diumumkan bahwa yang punya hajatan juga akan ’menyembelih seorang pacal’. Suatu bentuk kedzaliman yang melebihi perbuatan kaum jahiliyah Suku Quraisy di Kota Mekkah pada zaman nabi Muhammad SAW.

Pola hidup masyarakat Basemah yang liar, zalim, dan biadab seperti itu, bukan hanya diceritakan kembali secara turun-tumurun dari generasi ke generasi, melainkan tercatat pula pada tulisan-tulisan kuno aksara ka-ga-nga yang dijadikan benda-benda pusaka oleh tua-tua adat dari suku-suku sekitar Basemah, antara lain di daerah Enim. Intinya memperingatkan warga agar berhati-hati dan selalu waspada terhadap kedatangan para perampok dari Basemah yang sering menjarah harta benda serta menculik wanita dan anak-anak mereka. Bahkan selain itu Marco Polo [abad12], membuat catatan khusus tentang Basemah yang berbunyi..’Basma, where the people’s like a beast withuot law or religion....’ [basemah, penduduknya bagaikan binatang buas, tanpa aturan atau agama ]

Puyang Awak yang memperhatikan kehidupan suku Basemah yang liar, zalim tanpa hukum dan agama tersebut, justru berpendapat bahwa di tanah basemah inilah tempat yang tepat untuk menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang bersumber dari Kitab Suci Al-Qur’an yang diturunkan ALLAH SWT kepada nabi Muhammad SAW, untuk meng-agama-kan masyarakat yang belum beragama.

Akan tetapi perlu kita fahami bahwa metode yang dipergunakan oleh Puyang Awak dalam menyebarkan ajaran Islam yang mendasar tersebut, tidak mempergunakan bahasa Arab, melainkan beliau rumuskan kedalam bahasa Pasemah yang cukup dikenal sampai saat ini yaitu ’falsafah GANTI nga TUNGGUAN [Akhlakul Karimah].


C. Hubungan Darah Syaikh Baharudin dengan Sunan Gunung Jati

Mengutip dari buku ”Kisah Walisongo”, Karya Baidhowi Syamsuri, terbitan Apollo Surabaya didapatkan data sebagai berikut.

Adalah dua orang putra Prabu Siliwangi bernama Pangeran Walang Sungsang dan Putri Rara Santang belajar Dinul Islam kepada Syaikh Idlofo Mahdi atau Syaikh Dzathul Kahfi-seorang Ulama dari Baghdad yang menetap di Cirebon dan mendirikan Perguruan Islam. Karena kedua anak Raja Siliwangi tersebut tidak mendapat izin dari sang ayah, maka mereka melarikan diri ke Gunung Jati untuk belajar tentang Islam. Setelah cukup lama menuntut ilmu, keduanya diperintahkan sang syaikh untuk membuka hutan di selatan Gunung Jati yang kemudian dijadikan pedukuhan yang akhirnya menjadi ramai. Tempat ini kemudian dinamakan ”Tegal Alang-Alang” dan Pangeran Walang Sungsang diberi gelar ”Pangeran Cakra Buana” serta diangkat sebagai pimpinannya.

Syaikh Kahfi atau Datuk Kahfi memerintahkan kepada kedua muridnya tersebut untuk menunaikan haji ke Mekkah dilanjutkan dengan belajar Islam kepada Syaikh Bayanillah. Akhirnya Rara Santang menikah dengan seorang penguasa Mesir keturunan Bani Hasyim yang bernama Sultan Syarif Abdullah-dikenal juga dengan Sultan Syarif Abdullah Maulana Huda. Rara Santang namanya diganti dengan Syarifah Mudaim. Dari pernikahan ini lahirlah dua orang putra, Syarif Hidayatullah dan adiknya Syarif Nurullah.

Setelah Sultan Syarif Abdullah wafat, kedudukannya digantikan oleh putra keduanya Syarif Nurullah, karena putra pertamanya Syarif Hidayatullah tidak suka naik takhta dan lebih memilih pulang ke tanah Jawa beserta ibunya untuk mendakwahkan Islam. Syarif Hidayatullah inilah yang kemudian dikenal dengan nama Sunan Gunung Jati yang bersama-sama Senopati Demak Bintoro, yaitu Fatahillah yang melakukan penyerangan dan pengusiran Bangsa Portugis dari Sunda Kelapa.

Sedangkan Pangeran Cakra Buana setelah tinggal tiga tahun di Mesir kembali ke Jawa dan mendirikan negeri baru yaitu Caruban Larang. Prabu Siliwangi sebagai penguasa Jawa Barat telah merestui tampuk pemerintahan putranya ini dan memerinya gelar ”Sri Manggana”.

Dalam perjalanan dakwahnya, Sunan Gunung Jati telah sampai ke negeri Cina, dimana terdapat undang-undang yang melarang rakyatnya memeluk Islam. Disana beliau membuka praktek sistem pengobatan. Setiap yang datang berobat diajarinya berwudhu dan sholat. Orang cina kemudian mengenalnya sebagai sinshe dari jawa yang sakti dan berilmu tinggi. Akhirnya banyak diantara penduduknya memeluk Islam, termasuk seorang menteri Cina bernama Pai Lian Bang. Bahkan Kaisar Cina meminta Sunan Gunung Jati untuk menikahi putrinya yang bernama Ong Tien. Sunan Gunung Jati tidak mau mengecewakan sang kaisar, maka pernikahan tersebut dilangsungkan, kemudian ia pulang ke Jawa beserta Ong Tien.

Keberangkatannya ke Jawa dikawal dua Kapal Kerajaan yang dikepalai murid Sunan Gunung Jati, Pai Lian Bang. Kapal yang ditumpangi oleh Sunan Gung Jati berangat lebih dahulu dan singgah di Sriwijaya karena tersiar kabar bahwa adipati Sriwijaya yang berasal dari Majapahit bernama Ario Damar atau Ario Abdillah (nama Islamnya) telah meninggal dunia. Makam beliau dapat kita lihat sampai sekarang di Jalan Ariodillah Palembang. Sedangkan Ario Abdillah ini adalah anak tiri dari Fatahillah.

Karena kedua putra dari Ario Abdillah telah menetap di Jawa, maka Sunan Gunung Jati mengharapkan agar rakyat Sriwijaya berkenan mengangkat Pai Lian Bang sebagai adipati supaya tidak ada kekosongan kepemimpinan. Pai Lian Bang tidak menolak atas pengangkatannya, ia berkata : ”...seandainya bukan Sunan Gunung Jati sebagai guruku yang menyuruhku, maka aku tidak akan mau diangkat menjadi adipati...”.

Dengan bekal ilmu selama menjadi menteri di Cina, Pai Lian Bang berhasil membangun Sriwijaya. Pesantren dan madrasah benar-benar dikembangkannya dan beliau menjadi Guru Besar dlam Ilmu Ketatanegaraan. Murid-muridnya cukup banyak yang datang dari Pulau Jawa dan Sumatera termasuklah seorang cucu Sunan Gunung Jati dari Putrinya Panembahan Ratu yang dinikahi oleh Danuresia (Empu Eyang Dade Abang) yang bernama Syaikh Nurqodim al Baharudin (di sumsel dikenal dengan Puyang Awak). Pada akhirnya setelah Pai Lian Bang wafat, Sriwijaya diganti nama menjadi PALEMBANG yang diambil dari nama PAI LIAN BANG.

D. Latar Belakang Mudzakarah ’Ulama Serumpun Melayu Tempo Dulu

Setiap ulama yang shohih dapat dikenali langkah-langkahnya yang senatiasa menyusuaikan dengan panduan Alqur-an dan sunnah Rosul. Demikian pula analisis kami terhadap gerakan yang dibangun Syaikh Nurqodim al-Baharudin. Dengan segala keterbatasannya selaku manusia biasa dan dengan kesemangatannya selaku hamba Allah yang diberi amanah ke’ulamaan beliau telah berupaya membangun tata kehidupan masyarakat madani yang di contohkan Rosulullah Muhammad SAW. Inilah latar belakang pokok mudzakarah tersebut yaitu ingin mewujudkan tata kehidupan masyarakat yang diatur dengan Syariat Dinullah dengan panduan dari Rosulnya. Beliau tidak bermaksud membangun kekuasan dengan sistem kerajaan. Namun masyarakat madani yang tunduk pada kepemimpinan Allah dan Rosul dengan ’Ulama sebagai Ulil Amrinya.

Kemudian dengan melihat situasi dan kondisi perkembangan Islam di Eropa, Afrika, Asia, hingga wilayah Nusantara memberikan peluang yang besar kepada para ’ulama untuk menyebarkan ajaran Islam ke seluruh dunia, sehingga memberi corak tersendiri dalam kehidupan bermasyarakat. Terciptanya kestabilitasan dan perbaikan sistem kehidupan yang meliputi aspek sosial, budaya, ekonomi, pemerintahan dan keamanan, militer dan ilmu pengetahuan merupakan salah satu effect positif penyebaran melalui Dakwah dan Jihad.
Di rumpun melayu, khususnya setelah terjadi kekosongan kekuasaan di wilayah Sumatera Selatan akibat runtuhnya kekuasaan Sriwijaya dan Majapahit, dan terjadinya peralihan kekuasaan dari kerajaan Demak ke Pajang dan Mataram, sementara di wilayah Besemah (Pagaralam) masyarakat mengalami disintegrasi nilai-nilai kebudayaan yang mengakibatkan terciptanya kekacauan dalam sistem kehidupan sosial kemasyarakatan sehingga mereka kehilangan norma dan aturan yang mengatur tatanan kehidupan sosial. Hal ini yang menjadi faktor kedua dan mengilhami proses penyebaran Islam di wilayah Besemah dan Semendo oleh para ’ulama melalui proses mudzakarah.

Demikianlah dua latar pokok munculnya pertemuan ulama pada masa itu, yaitu ittiba kepada panduan Allah dan Rosul dengan gambaran dalilnya antara lain Surah al Anfal ayat 72, mengenai perintah iman, hijrah dan jihad. Selanjutnya kedua, yaitu kondisi dunia dan ummat yang menghendaki para ’ulama agar bersepakat mengangkat Islam.


E. Lokasi dan Hasil Keputusan Mudzakarah Ulama Tempo Dulu

Keberadaan dan kegiatan dakwah yang dilakukan beliau lama-kelamaan mulai tersebar. Bahwa di daerah Batang Hari Sembilan telah ada seorang aulia yang bernama Syaikh Nur Qodim Al Baharudin. Banyaklah penghulu agama / pemuka agama dari berbagai daerah berdatangan memenuhi ajakan Puyang Nur Qodim untuk bermukim di Talang Tumutan Tujuh akhirnya diresmikanlah oleh Puyang Ratu Agung Empuh Eyang Dade Abang menjadi ”dusun Paradipe” (para penghulu agama) tahun1650 M / 1072 H sekarang dinamakan dusun Tue. Dari perluasan daerah inilah disebut wilayah jagad Semende Panjang Basemah Libagh.

Kegiatan pembukaan wilayah oleh Syaikh al Baharudin antara lain :

  1. Pembukaan dusun dan Wilayah Pertanian Pagaruyung yang dipimpin oleh Puyang Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Tanah Minang Kabau.
  2. Pembaharuan dusun serta pemekaran Wilayah Peghapau yang dipimpin oleh Puyang Prikse Alam, dan Puyang Agung Nyawa beserta Puyang Tuan Kuase Raje Ulieh dari negeri Cina yang nama aslinya Ong Gun Tie
  3. Pembukaan Dusun dengan pemukiman di dusun Muara Tenang oleh Putra Sunan Bonang dari Jawa. Di Tanjung Iman oleh Puyang Same Wali, di Padang Ratu oleh Puyang Nakanadin, di Tanjung Raye oleh Puyang Regan Bumi dan Tuan Guru Sakti Gumai serta di Tanjung Laut oleh Puyang Tuan Kacik berpusat di Pardipe
  4. Pemekaran pembukaan wilayah Marga Semende, Muare Saung dan Marga Pulau Beringin (OKU).
  5. Pembukaan wilaya Marga Semende Ulu Nasal dan Marga Semende Pajar Bulan Segirin Bengkulu
  6. Pembukaan dusun dan wilayah pertanian di Lampung yakni Marga Semende Waitenang, Marga Semende Wai Seputih, Marga Semende Kasui, Marga Semende Peghung dan Marga Semende Ulak Rengas (Raje Mang Kute) Muchtar Alam..
Pendiri Adat Semende
a. Ratu Agung Umpu Eyang Dade Abang (Bapak Nur Qodim – Puyang Awak).
  1. Puyang Awak Syaikh Nurqodim Al Baharudin, bertempat tinggal di Perapau dan Muara Danau.
  2. Puyang Mas Penghulu Ulama Panglima Perang dari Gheci Mataram Jawa.
  3. Ahmad Pendekar Raje Adat Pagaruyung dari Minang Kabau (Sumbar).
  4. Puyang Sang Ngerti Penghulu Agama dari Tebing Rindu Ati Bangkahulu (Bengkulu).
  5. Puyang Perikse Alam dari Lubuk Dendan Mulak Basemah.
  6. Puyang Agung Nyawe.
  7. Puyang Lurus Sambung Ati dari gunung Puyung Banten Selatan Jabar.
  8. Tuan Kuase Raje Ulie Depati Penanggungan.
  9. Puyang Lebi Abdul Kahar dari Pulau Panggung.
  10. Tuan Mas Pangeran Bonang Muara Tenang.
  11. Regan Bumi Nakanadin samewali Tanjung Raya.
  12. Tuan Kecil dari Tanjung Laut.
Mengenai hasil keputusan yang di dapat, antara lain adalah munculnya rumusan kesepakatan ulama mengenai tahapan waktu kaderisasi ummat dan masa tegaknya daulah Islam di Rumpun Melayu. Rumusan ini menggunakan bahasa melayu setempat yang tercatat sampai saat ini dan mengandung pesan yang amat kuat, yaitu ”Tujuh Ganti Sembilan Gilir”. Terjemahnya adalah tujuh generasi dan sembilan masa pergiliran Kesultanan”. Satu generasi adalah sekitar 40 tahun sehingga makna tujuh ganti adalah 280 tahun masa pengkaderan atau persiapan ummat ummat Islam untuk bangkit dan mengusir penjajah dari Eropa. Terbukti sekitar 300 tahun kemudian dari tahun 1650 penjajah belanda angkat kaki dari negeri ini. Kemudian Kesultanan Mataram sebagai pusat komunikasi dari kesultanan lain di rumpun melayu diberi batas amanah sampai ke 9 kepemimpinan untuk selanjutnya menegakkan Syariat Islam secara total.

Data mengenai ulama yang hadir antara lain 40 ulama Malaka yang berangkat dari Johor, utusan Mataram Raden Seto dan Raden Khatib dan beberapa utusan lain dari Pagaruyung dan beberapa dari wilayah Rumou Melayu lainnya. Lokasi Mudzakarah Ulama ini adalah di Dusun Perdipe (Para Dipo; para penghulu agama).


Sumber : http://imrodili.blogspot.com/2010/08/sejarah-suku-semende-dalam-penellitian.html

 By : Bang Udin
----------------------------------------------------------------------------------
Gunakan ----{ CTRL + F }---- Untuk Mencari Artikel
----------------------------------------------------------------------------------
Postingan Baru :

Read More...

Bikin Baground Foto Blur


 ----------------------------------------------------------------------------------
Depth Of Field (DOF)

DOF secara sederhana dapat diartikan sebagai ruang ketajaman atau ukuran seberapa jauh bidang fokus dalam foto. Dalam istilah fotografi, dikenal dua jenis DOF, DOF lebar dan DOF sempit.
1. DOF Lebar, berarti sebagian besar obyek foto, baik obyek foto terdekat dari kamera sampai obyek terjauh akan fokus/tajam.
2. DOF Sempit, berarti titik fokus/tajam hanya akan ada pada bagian obyek tertentu, sedangkan sisanya blur/tidak fokus.

Kiri: DOF Sempit | Kanan: DOF Lebar (Sumber: Google)
Bagaimana Menghasilkan DOF?
APERTURE
Mari kita pahami dulu tentang aperture. Aperture adalah ukuran seberapa besar lensa terbuka (bukaan lensa) saat kita mengambil foto. Jadi, saat kita menekan shutter lubang di depan sensor kamera akan terbuka, settingan aperture inilah yang mengatur besar kecil bukaan tersebut. Fungsi aperture selain sebagai jendela yang mengatur sedikit banyaknya cahaya yang masuk, juga berfungsi untuk mengatur efek ngeblur dan fokusnya obyek pada foto kita.
Dalam kamera bukaan diafragma dilambangkan dengan huruf  ” f ” (misal: f 3.5 ; f 5.6 ; f 8, dsb). Nah, sedikit rumus (walah kaya Matematika):
1. Semakin kecil angka ” f ” (f 1.8, f2, dsb) berarti semakin besar lubang diafragmanya dan semakin banyak volume cahaya yang masuk, lalu DOF akan semakin sempit
2. Semakin besar angka “f” (f 8, f 22, dsb) berarti semakin kecil lubang diafragmanya, semakin sedikit volume cahaya yang masuk, lalu DOF akan semakin lebar.
bentuk bukaan diafragma (sumber:google)
bentuk bukaan diafragma (sumber:google)

Ilustrasi pengaruh besar kecil “F” pada DOF (Sumber: Google)
Sudah kebayang prinsipnya?

PRAKTEK

Ayo pegang kameranya, kita coba setting mode kamera pada mode Aperture Priority
hundle Mode Aperture (sumber: google)
hundle Mode Aperture (sumber: google)
UJI COBA #1
Oke sobat TP’ers mari praktekin tekniknya, coba dilihat contoh foto pertempuran dibawah ini:
dengan aperture f/11, shutter speed 1/8 detik, ISO 3200
dengan aperture f/11, shutter speed 1/8 detik, ISO 3200
Foto di atas menggunakan bukaan aperture di f/11. Nah dengan menggunakan settingan seperti ini antara kedua prajurit tampak jelas/tidak blur. Nah teknik menggunakan angka f  besar biasanya digunakan oleh tOekangpoto untuk memotret lanskap atau pemandangan, supaya ruang ketajaman menjadi lebih luas. Maksudnya,  latar depan dan belakang semaunaya akan jelas tanpa takut ngeblur.
Catatan:
Efek samping dari mengatur diafragma diangka besar adalah kecepatan rana/kecepatan pemotretan jadi lambat.  So,  sobat harus hati-hati dengan goyangan tangan pada kamera yang akan menyebabkan foto blur karena goyangan.
UJI COBA #2
Coba sobat TP’ers ganti settingan dengan f yg lebih kecil, pada foto contoh dibawah ini digunakan f1,8. Eng ing eng…. Kita bisa bikin foto lebih berdimensi, hanya prajurit TP’ers sang pemenang yg dibuat jelas dan fokus, sedangkan musuhnya pasukan Israel ngeblur gak karuan.
dengan aperture f/2,8, shutter speed 1/125 detik, ISO 3200
dengan aperture f/2,8, shutter speed 1/125 detik, ISO 3200
Tapi jangan lupa titik fokus harus kita tempatkan di prajurit TP’ers sang gagah berani yaaaaa. Kalau terbalik, justru jangan-jangan prajurit Israel yang jadi jelas/fokus dan prajurit TP’ers ngeblur.
dengan aperture f/2,8, shutter speed 1/125 detik, ISO 3200
dengan aperture f/2,8, shutter speed 1/125 detik, ISO 3200
Oke sob kebayang kan?. Contoh sederhana ini bisa jadi bayangan bagaimana  cara membuat background jd ngeblur….(huuuf lega juga,  udah bikin tulisan ini)
Jadi inga..inga….Klo mau bikin foto ngeblur setting angka “f ” sekecil-kecilnya yang dimiliki oleh lensa sobat sekalian.
Nah yang ini asli karya saya Iptahudin Fotografer :
 Dengan aperture f/5,6, shutter speed 1/1000 detik, ISO 200
 Dengan aperture f/5,6, shutter speed 1/800 detik, ISO 200
 
Dengan aperture f/5,6, shutter speed 1/160 detik, ISO 200

By : http://toekangpotoid.wordpress.com
----------------------------------------------------------------------------------
Gunakan ----{ CTRL + F }---- Untuk Mencari Artikel
----------------------------------------------------------------------------------
Postingan Baru :

Read More...

Objek Wisata Situ Gede di Tasikmalaya


 ----------------------------------------------------------------------------------
Merupakan obyek wisata yang menawarkan keindahan panorama alam situ dengan hiasan hutan alam yang berada pada sebuah pulau kecil (nusa) yang terletak di tengah situ. Dengan luas keseluruhan sekitar 47 hektar, dan ditengah nusa seluas satu hektar terdapat Makam Eyang Prabudilaya, salah seorang tokoh agama Islam dari Tasikmalaya.
Keberadaan Situ memiliki fungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan sawah di sekitarnya. Sementara keberadaanya pun menjadi daya tarik wisata alam yang cukup besar mengingat letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Kawasan Situ Gede memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang setiap tahunnya dilengkapi oleh pemerintah. Di antaranya gapura, loket, musola, toilet, jogging track, serta taman. Masyarakat sekitar menjadikan kawasan tersebut sebagai lahan mata pencaharian mereka di antaranya kios-kios, warung nasi yang menawarkan aneka menu ikan khas Situ Gede, penyewaan rakit, penyewaan perahu motor, atau pun sekedar mencari ikan untuk dijual.
Keberadaan Situ Gede pun menawarkan berbagai alternatif wisata, seperti wisata air, wisata ziarah, wisata olahraga, sampai wisata kuliner. Sehingga di lokasi Situ Gede ini masih membutuhkan tangan-tangan investor untuk ikut serta dalam pengembangnnya.
Akan lebih menarik bila di lokasi Situ Gede dibangun tempat penginapan, penyewaan jetsky, restoran yang representatif, kios-kios cinderamata, kawasan outbond, taman bermain, dermaga pemancingan, dan lain-lain. Namun untuk pembangunan di Situ Gede harus tetap mengacu pada master plan yang disusun untuk tetap menjaga kelestarian alam.
Salah satu sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal yang dapat diandalkan untuk pembangunan perekonomian masyarakat Kota Tasikmalaya adalah objek wisata situ gede yang terletak dikelurahan Linggajaya dan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi. 
Situ Gede merupakan sebuah danau seluas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 s.d. 6 meter. Ditengah-tengah terdapat sebuah pulau dengan luas 1 Ha, dipulau ini dimakamkan Eyang Prabudilaya yang legendanya berkembang di masyarakat Kota Tasikmalaya, letak situ gede relatif dekat dengan pusat Kota Tasikmalaya, kuang lebih+4 km. 
Fasilitas bagi wisatawan adalah gazebo 7 buah, tempat parkir cukup luas, masjid, MCK, rakit, tempat memancing, taman dan camping ground. 
Aktivitas para wisatawan yang dapat dilakukan adalah joging, memancing, menjala ikan, mengelilingi pulau dengan rakit, menikmati pemandangan alam dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar, menikmati bakar dan goreng ikan dikios-kios sekitar objek wisata, serta ziarah ke pulau situ gede.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=1034&lang=id#sthash.ehtT4TNr.dpuf

Situ Gede merupakan obyek wisata yang menawarkan keindahan panorama alam situ dengan hiasan hutan alam yang berada pada sebuah pulau kecil (nusa) yang terletak di tengah situ. Dengan luas keseluruhan sekitar 47 hektar, dan ditengah nusa seluas satu hektar terdapat Makam Eyang Prabudilaya, salah seorang tokoh agama Islam dari Tasikmalaya.
Keberadaan Situ memiliki fungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan sawah di sekitarnya. Sementara keberadaanya pun menjadi daya tarik wisata alam yang cukup besar mengingat letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Salah satu sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal yang dapat diandalkan untuk pembangunan perekonomian masyarakat Kota Tasikmalaya adalah objek wisata situ gede yang terletak dikelurahan Linggajaya dan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi. 
Situ Gede merupakan sebuah danau seluas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 s.d. 6 meter. Ditengah-tengah terdapat sebuah pulau dengan luas 1 Ha, dipulau ini dimakamkan Eyang Prabudilaya yang legendanya berkembang di masyarakat Kota Tasikmalaya, letak situ gede relatif dekat dengan pusat Kota Tasikmalaya, kuang lebih+4 km. 
Fasilitas bagi wisatawan adalah gazebo 7 buah, tempat parkir cukup luas, masjid, MCK, rakit, tempat memancing, taman dan camping ground. 
Aktivitas para wisatawan yang dapat dilakukan adalah joging, memancing, menjala ikan, mengelilingi pulau dengan rakit, menikmati pemandangan alam dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar, menikmati bakar dan goreng ikan dikios-kios sekitar objek wisata, serta ziarah ke pulau situ gede. Kebetulan waktu itu aktifitas saya melakukan pemotertan alam situ gede ternyata bagus juga hasilnya di bawah ini. 
 Gambar 1 View Full
Gambar 2 View Full 
Gambar 3 View Full 
Gambar 4 View Full 
Gambar 5 View Full 
Gambar 6 View Full 
Gambar 7 View Full 
Merupakan obyek wisata yang menawarkan keindahan panorama alam situ dengan hiasan hutan alam yang berada pada sebuah pulau kecil (nusa) yang terletak di tengah situ. Dengan luas keseluruhan sekitar 47 hektar, dan ditengah nusa seluas satu hektar terdapat Makam Eyang Prabudilaya, salah seorang tokoh agama Islam dari Tasikmalaya.
Keberadaan Situ memiliki fungsi sebagai sumber irigasi bagi lahan sawah di sekitarnya. Sementara keberadaanya pun menjadi daya tarik wisata alam yang cukup besar mengingat letaknya yang tidak begitu jauh dari pusat Kota Tasikmalaya, sekitar 30 menit perjalanan dengan kendaraan.
Kawasan Situ Gede memiliki kelengkapan sarana dan prasarana yang setiap tahunnya dilengkapi oleh pemerintah. Di antaranya gapura, loket, musola, toilet, jogging track, serta taman. Masyarakat sekitar menjadikan kawasan tersebut sebagai lahan mata pencaharian mereka di antaranya kios-kios, warung nasi yang menawarkan aneka menu ikan khas Situ Gede, penyewaan rakit, penyewaan perahu motor, atau pun sekedar mencari ikan untuk dijual.
Keberadaan Situ Gede pun menawarkan berbagai alternatif wisata, seperti wisata air, wisata ziarah, wisata olahraga, sampai wisata kuliner. Sehingga di lokasi Situ Gede ini masih membutuhkan tangan-tangan investor untuk ikut serta dalam pengembangnnya.
Akan lebih menarik bila di lokasi Situ Gede dibangun tempat penginapan, penyewaan jetsky, restoran yang representatif, kios-kios cinderamata, kawasan outbond, taman bermain, dermaga pemancingan, dan lain-lain. Namun untuk pembangunan di Situ Gede harus tetap mengacu pada master plan yang disusun untuk tetap menjaga kelestarian alam.
Salah satu sumber daya alam yang belum dimanfaatkan secara optimal yang dapat diandalkan untuk pembangunan perekonomian masyarakat Kota Tasikmalaya adalah objek wisata situ gede yang terletak dikelurahan Linggajaya dan Mangkubumi Kecamatan Mangkubumi. 
Situ Gede merupakan sebuah danau seluas 47 Ha dengan kedalaman air antara 1,5 s.d. 6 meter. Ditengah-tengah terdapat sebuah pulau dengan luas 1 Ha, dipulau ini dimakamkan Eyang Prabudilaya yang legendanya berkembang di masyarakat Kota Tasikmalaya, letak situ gede relatif dekat dengan pusat Kota Tasikmalaya, kuang lebih+4 km. 
Fasilitas bagi wisatawan adalah gazebo 7 buah, tempat parkir cukup luas, masjid, MCK, rakit, tempat memancing, taman dan camping ground. 
Aktivitas para wisatawan yang dapat dilakukan adalah joging, memancing, menjala ikan, mengelilingi pulau dengan rakit, menikmati pemandangan alam dengan nuansa pedesaan yang sejuk dan segar, menikmati bakar dan goreng ikan dikios-kios sekitar objek wisata, serta ziarah ke pulau situ gede.
- See more at: http://www.disparbud.jabarprov.go.id/wisata/dest-det.php?id=1034&lang=id#sthash.ehtT4TNr.dpuf
By : Bang Udin
----------------------------------------------------------------------------------
Gunakan ----{ CTRL + F }---- Untuk Mencari Artikel
----------------------------------------------------------------------------------
Postingan Baru :

Read More...

Go Green Iptahudin Fotografer 1


 ----------------------------------------------------------------------------------
 Ke Indahan Alam memberikan kesempatan buat para fotografer menikmati dan mengabdikan keindahan itu salah satu dari sekian banyak fotografer di dunia yang seperti adalah saya. semoga karya - karya saya bermanfaat buat pembaca. 
 Pemotretan di lakukan pada pagi hari di Gunung Terang, Provinsi Lampung Full Image.

 Pemotretan di lakukan pada siang hari di Cukuhnau, Kec, Sungai Are. Muara Dua, Oku Selatan Sumatera Selatan Full Image.
  
Pemotretan di lakukan pada siang hari di Pantau Muton, Lampung Full Image.
Pemotretan di lakukan pada siang hari di Cukuhnau, Kec, Sungai Are. Muara Dua, Oku Selatan Sumatera Selatan Full Image dan di samping kanan saya potret pada siang hari di Pantai Muton, Lampung Full Image.

Saya memotretnya menggunakan kamera SLR. Semoga bermanfaat buat kalian pembaca.

By : Bang Udin
----------------------------------------------------------------------------------
Gunakan ----{ CTRL + F }---- Untuk Mencari Artikel
----------------------------------------------------------------------------------
Postingan Baru :

Read More...